Bahan Mata Kuliah Micro Teaching
Oleh : Nofrion Sikumbang
Berdasarkan Buku ‘Smart Teaching” Karya Agung Webe Penerbit. JB Publisher. 2010).
William Arthur Ward :”Guru biasa, menceritakan. Guru yang baik, menjelaskan. Guru Terbaik, mendemontrasikan dan Guru besar, memberi inspirasi”.
Agung Webe:”Kegagalan sebuah metodw adalah ketika metode tersebut menjadi tempat bersandar terlalu lama, sehingga membuat seseorang tidak bisa mandiri dan tergantung kepada metode tersebut”.
John Cotton Dana:”Siapapun yang berani mengajar, dia tidak boleh berhenti belajar”.
Sebuah Kisah Klasik Penuh Hikmah
“Di sebuah negeri, terdapatlah sekolah untuk hewan. Hewan-hewan disana diberikan materi yang bermacam-macam supaya mereka mempunyai berbagai kelebihan untuk masa depan mereka. Hewan yang menjadi peserta didik disana adalah Gajah, Kancil, Ular, Macan, Semut, Kura-kura, Elang dan Ikan. Mereka ini mendapatkan pelajaran berdasarkan kurikulum yang sangat lengkap. Ada pelajaran meloncat jauh, pelajaran terbang, pelajaran menyelam, pelajaran merobohkan pohon, pelajaran merayap dan sebagainya.
Minggu pertama adalah pelajaran meloncat jauh. Pada pelajaran ini yang mendapatakan nilai yang bagus hanyalah kelinci. Gajah, kura-kura dan semut menjadi putus asa karena tidak bisa mengikutinya.
Pada minggu kedua adalah pelajaran menyelam. Ikan mendapatkan nilai sempurna sedangkan hewan lain tidak ada yang berani menyelam.
Minggu ketiga adalah pelajaran terbang. Luar biasa, burung mendapatkan nilai bagus. Hewan lain, jangankan terbang, meloncat tinggi saja susah bahkan ada yang tidak bisa sama sekali.
Pada minggu keempat adalah pelajaran merobohkan pohon. Gajah mendapatkan nilai bagus. Untuk kura-kura, ikan, kancil, burung dan semut memilih untuk tidak mengikuti pelajaran ini karena memang tidak bisa.
Demikianlah, sampai pada akhir kelulusan sekolah hewan tersebut. Kepala sekolah kecewa dengan nilai yang didapatkan para siswanya karena masing-masing hanya mengikuti satu mata pelajaran saja. Kemudian dinyatakan bahwa tidak ada satu muridpun yang lulus dan semua harus mengulang sampai mendapatkan nilai minimal yang harus dicapai.
Alhasil para hewan tersebut mengulang lagi semua dari awal. Lalu, apa yang terjadi?. Karena dipaksakan dan dituntut untuk nilai mendapatkan nilai bagus di setiap mata pelajaran, maka satu per satu hewan tersebut mati karena tidak kuat dengan kondisi yang ada. Baik mati secara fisik maupun mati kemampuan dasarnya. Burung yang seharusnya jago terbang menjadi tidak piawai terbang gara-gara juga harus berjuang untuk bisa berenang. Gajah yang jago merobohkan pohon menjadi berkurang kemampuannya karena juga harus mati-matian belajar berenang. Demikian juga dengan yang lain”.
Coba bayangkan jika ini terjadi di sekolah-sekolah kita saat ini. Ketika semua anak dipaksakan dan dituntut untuk mampu menguasai semua mata pelajaran. Semua harus pintar matematika, fisika, biologi dan kimia dll. Seharusnya setiap peserta didik harus diberikan kesempatan dan peluang untuk menjadi pintar sesuai dengan potensinya masing-masing. Ada yang pintar matematika, ada yang pintar bahasa, ada yang pintar kimia dan ada yang pintar dalam geografi. Jika peserta didik dipaksa untuk menguasai sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka peserta didik tersebut akan mati. Mati kreativitas dan perkembangan dirinya.
Guru yang baik bukan saja guru yang mampu menyampaikan pelajaran dengan baik, namun juga harus memikirkan bagaimana peserta didik menerima pelajaran tersebut, dampaknya serta mengevaluasinya.
Pengalaman membuktikan bahwa di bangku sekolah ada pelajaran yang disukai dan ada pelajaran yang kurang disukai. Ada pelajaran yang membosankan dan menyebalkan dan ada juga pelajaran yang begitu mengasikkan. Banyak respond an perilaku peserta didik untuk menunjukkan ketidaknyamanannya terhadap kondisi tersebut. Sering minta izin ke toilet, mengajak temannya berbicara, sibuk sendiri, membuat gaduh, dan lain-lain. Kalau kita mau jujur, maka satu diantara penyebab kebosanan itu adalah karena faktor “Guru”. Maka, di sekolah kita akan memiliki guru yang disukai dan guru yang dibenci. Ada guru yang membuat kangen dan ada juga guru yang menyebabkan stress. Ada Guru yang menginspirasi ada juga guru yang membunuh potensi.
Langkah yang baik di awal pembelajaran adalah membuat peserta didik merasa senang dan bahagia. Awali dengan cerita yang menarik, sesuatu yang baru, sesuatu yang lama namun disampaikan dengan cara yang baru, mendengarkan keluh kesah anak didik dan sebagainya. Penting untuk membuat peserta didik tersenyum dan senang di awal sebuah pembelajaran. Sampaikan sesuatu yang pernah anda alami dan anda rasakan. Serta sampaikan sesuatu yang pernah anda aplikasikan. Jika seorang guru lebih sering menyampaikan segala sesuatu yang menjadi bahan logika, apalagi opini maka guru tersebut sekedar melakukan transfer of knowledge saja. Namun, jika guru menyampaikan suatu materi dan dikaitkan dengan hal-hal yang pernah dialami dan diimplementasi maka guru tersebut telah melakukan transformasi.
Menurut Agung Webe, Penulis buku Smart Teaching mengenalkan konsep RST (Recollection Smart Teaching). Agar semua guru bisa menjadi smart maka ada 5 hal yang harus guru lakukan:
- Bisa berefleksi tentang keberadaan dirinya sebagai seorang pengajar/pendidik.
- Bisa berkomunikasi secara efektif dan efisien serta luar biasa.
- Mempunyai kemampuan leadership dalam memimpin murid-muridnya.
- Menerapkan pelayanan prima dan penuh integrasi.
- Penuh motivasi.
Metode sederhana RST dibagi atas 7 bagian.
- Manual Tubuh.
Setiap manusia, di dalam tubuhnya memiliki sejumlah peralatan “perang’ yang komplit dengan senjata-senjata super canggih yang dapat kita gunakan dalam pembelajaran. Tapi, kebanyakan kita tidak menyadari hal tersebut. Kita malah sibuk dan bersusah payah mencari dan menggunakan sesuatu yang berasal dari luar tubuh kita dan hal-hal tersebut sebenarnya tidak begitu menentukan dan hanya sekedar faktor pendukung. Dengan metode ini, Guru harus berlatih untuk mengenali potensi tubuhnya terutama hal-hal yang bersifat internal. Lalu, kemampuan ini juga berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengenali manual tubuh peserta didik. Ketika guru tersebut melihat ada peserta didik yang melamun, gelisah atau berbicara dengan teman sebangkunya saat pembelajaran berlangsung, maka guru tersebut tidak akan memvonis peserta didik tersebut sebagai anak yang malas, bodoh atau nakal. Mungkin saja dia sedang mengalami sesuatu yang harus dicarikan jalan keluarnya segera.
Ada 3 hal yang berkaitan dengan manual tubuh yaitu DNA, Otak dan kesadaran.
- DNA/deoxyribonuscleid acid atau pembawa sifat-sifat genetic atau gen. Tubuh manusia terdiri dari banyak sekali sel. Dalam 1 kg tubuh ada 1 triliun sel dan dalam satu sel terdapat satu gen. Di dalam setiap sel, di tengah-tengahnya terdapat sebuah nucleus yang dilapisi oleh membrane. Dan di dalam nucleus itulah ada DNA. Menurut para ahli, kita terbentuk karena sebuah kode genetic yang terdapat di dalam nucleus tersebut. Kode inilah yang memuat seluruh informasi kehidupan. Kode tersebut terdiri dari molekul-molekul yang disingkat menjadi empat huruf yaitu ATCG(Adenin, Timin, Cytosin dan Guanin). Dalam satu nucleus atau gen manusia adalah kombinasi empat huruf tadi yang berjumlah 3 milyar huruf-huruf tersebut. Dalam 3 milyar kombinasi huruf tersebut termuat informasi kehidupan. Bayangkan dalam satu gen/nucleus saja kita memiliki 3 milyar informasi. Coba hitung, berapa informasi yang bisa kita memiliki secara keseluruhan?. 1 kg terdapat 1 triliun sel. Dalam 1 sel ada 3milyar informasi. Dalam 1 kg terdapat 1 triliun x 3 milyar informasi. Nah, berapa berat badan anda?maka sebanyak itulah seharusnya informasi yang bisa anda munculkan. Berdasarkan hal tersebut sebenarnya tidak ada manusia yang bodoh bukan?.Maka tugas kita sebagai guru adalah membuat sebuah tranformasi sehingga pengetahuan yang 3 milyar tersebut dapat diingat dan muncul kembali kea lam sadar peserta didik kita.
Pada intinya, tidak ada manusia yang bodoh karena paling sedikit manusia memiliki 3 milyar informasi. Namun, ada beberapa informasi itu ada dalam keadaan aktif dan ada yang dalam keadaan dorman. Namun, keadaan norman ini sering terjadi dalam diri kita. Lingkungan sangat berperan untuk mengaktifkan keadaan dorman ini. Apabila manusia hidup dalam lingkungan tertentu, maka gen-gen dalam dirinya akan aktif sesuai dengan apa yang dibutuhkan saat itu. Ini mengacu pada penelitian oleh Francois Jacob dan Jacques Monod dengan bahteri E. Coli. Bahteri ini awalnya hanya memakan Glukosa. Lalu bahteri ini diberikan laktosa. Awalnya bahteri ini tidak memakannya namun karena tidak ada hal lain yang bisa dimakan maka kemudian bahteri E. Coli memakan laktosa dan berkembang biak. Dalam penelitian lanjutan diketahui bahwa kemampuan E. Coli memakan Laktosa bukanlah kemampuan yang datang belakangan melainkan kemampuan menguraikan laktosa selama ini berada dalam keadaan dorman. Ketika lingkungan mengharuskan E. Coli untuk memakan laktosa maka maka gen yang memproduksi enzim pengurai laktosa diaktifkan.
Demikian juga dengan manusia. Gen kita mempunyai system aktif dan dorman yang mempengaruhi kerja enzim dalam tubuh kita. Satu hal yang harus kita pahami adalah bahwa apa yang kita pikirkan dan lingkungan yang ada akan mempengaruhibcara kerja gen pada tubuh kita.
- Otak.
Kita belajar dari seekor lebah. Otak lebah hanya memiliki 160 ribu sel. Bandingkan dengan manusia yang pada saat lahir sudah memiliki 1 triliun sel dan terus berkembang sampai umur tertentu. Walaupun lebah hanya memiliki 160 ribu sel di otaknya, namun lebah bisa melakukan kegiatan-kegiatan seperti;
1). Berumah tangga, mempunyai istri/suami dan mempunyai anak.
2). Melakukan pekerjaan dan mencari makan untuk keluarganya.
3). Berangkat pagi dan pulang petang hari.
4). Membangun rumah untuk keluarga.
5). Melindungi keluarga dari segala bentuk ancaman.
Kalau seorang manusia hanya mampu melakukan hal-hal standar seperti yang dilakukan oleh lebah maka kita sama saja dengan menggunakan 160 ribu sel otak kita. Terus yang lainnya kemana?.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian bahwa kecerdasan seseorang tidaklah ditentukan semata-mata oleh jumlah sel otaknya. Namun oleh interkoneksi dari setiap sel otak. Kemampuan kita merangsang untuk terjadinya interkoneksi antar sel otak itulah yang paling menentukan. Kemudian, dalam sel otak/neuron ada bagian yang dinamakan neuron mirror yang sangat bermanfaat untuk perkembangan kita sebagai manusia. Sifat neuron mirror ini adalah meniru/menjiplak.
Ada sebuah contoh:
Ketika kita di jalan raya mengendarai sepeda motor dan semuanya dengan kecepatan 60 km/jam maka kita akan terbawa arus untuk tetap melaju dengan kecepatan tersebut. Namun, jika tiba-tiba ada seorang pengendara yang memacu sepeda motornya dengan kecepatan 100 km/jam maka apa yang akan anda rasakan?. Maka, kita akan terbawa untuk melaju dengan kecepatan yang sama.
Ada bagian dalam sel-sel otak kita yang akan meniru dan menyamakan diri dengan lingkungan atau orang di sekitar kita. Mari kita manfaatkan neuron mirror ini demi perkembangan kita semua. Caranya mudah saja, jika kita ingin kreatif maka kita harus bergaul dengan orang-orang yang kreatif. Dengan memahami ini, sebagai guru tidak boleh lagi mengelompokan peserta didik berdasarkan keseragaman mereka. Sama-sama bodoh, sama-sama nakal, sama-sama pintar dan sebagainya. Gabungkanlah anak yang kurang pintar dengan anak yang pintar. Anak yang malas dengan anak yang rajin. Maka, kita telah memberikan kesempatan kepada peserta didik kita untuk mengembangkan neuron mirrornya.
- Kesadaran.
Sadar artinya adalah suatu kondisi atau keadaan ketika kita, tubuh, jiwa dan pikiran benar-benar ada secara eksitensi ketika melakukan sesuatu. Contoh saat anda sedang membaca buku atau belajar yang baik. Kondisi bawah sadar adalah kondisi ketika semua memori tersimpan di dalamnya. Contoh, anda membaca buku, lalu semua informasi yang and abaca tersimpan di bawah sadar. Perlu diingat adalah bahwa tindakan kita 12% dipengaruhi oleh sadar kita dan 88% justru dipengaruhi oleh bawah sadar kita. Jadi, keputusan-keputusan yang diambil oleh peserta didik dalam pembelajaran ternyata dipengaruhi oleh bawah sadarnya secara dominan. Makanya dalam pembelajaran, seorang guru harus memperhatikan bagaimana dia menanamkan dan memasukan informasi/program ke bawah sadar seorang anak. Jangan hanya berfikir bagaimana menyampaikan pelajaran tapi juga apakah pelajaran itu tertanam dengan baik atau tidak. Makanya, sangat berbahaya jika seorang guru salah dalam menanamkan sebuah pelajaran. Disisi lain, guru bisa memanfaatkan pengaruh bawah sadar tersebut.
Dalam RST ada 2 hal yang perlu kita perhatikan yaitu time base dan performance. Waktu pagi, siang, sore dan malam adalah berbeda. Karenanya, waktu yang berbeda tersebut juga akan memberikan energy serta pengaruh yang berbeda. Demikian juga dengan penampilan kita. Guru harus mampu menyelaraskan penampilan dan gaya mengajar sesuai dengan waktu yang sedang anda jalani. Gaya mengajar pagi tentu akan berbeda dengan gaya mengajar siang atau sore. Dua hal ini haruslah saling selaras dan bersinergi. Ada 4 hal yang harus dibiasakan seorang guru di awal pembelajaran yaitu buat pembukaan yang menarik/mengejutkan, terangkan masalah mereka, beri solusi dan ajak mereka mengambil keputusan.
Mana kalimat yang sering anda gunakan ketika materi pelajaran telah selesai
“Ulangi materi ini di rumah ya dan besok pagi Bapak akan memberikan beberapa pertanyaan…”
Atau
“Jangan lupa yang untuk mengulangi materi ini nanti malam di rumah ya?
Pembagian Time Base dalam Pembelajaran
| No |
Pukul |
Time Base |
Keterangan |
| 1 |
06:00-09:00 |
Green stage |
Otak masih rileks dan masih segar untuk menerima segala macam informasi. |
| 2 |
09:00-12:00 |
Yellow stage |
Otak mulai jenuh. |
| 3 |
12:00-15:00 |
Red stage |
Otak dalam keadaan jenuh. |
| 4 |
15:00-18:00 |
White stage |
Otak dalam keadaan netral. |
| 5 |
18:00-24:00 |
Black stage |
Otak dalam keadaan rileks yang bisa berubah menjadi Green, Yellow, Red atau White tergantung dari Anchor/Keadaan yang ada. |
| 6 |
24:00-06:00 |
Grey stage |
Otak dalam keadaan rileks dan harus istirahat. |
Pembagian Performance dalam pembelajaran
| No |
Style/Gaya |
Keterangan |
| 1 |
Water |
Penampilan dingin, serius dan memperlihatkan kematangan anda. Anda banyak menggunakan tatapan mata dalam berkomunikasi untuk menajamkan perhatian pada satu-satu audiens. |
| 2 |
Fire |
Penampilan yang penuh semangat dan berapi-api. Banyak nada-nada tinggi dan gerakan-gerakan yang tegas. |
| 3 |
Earth |
Penampilan anda lebih banyak memunculkan cerita, kelucuan dan banyak menggunakan metafora dalam pembicaraan. Banyak menggunakan diskusi dan permainan untuk memahami sesuatu. |
| 4 |
Sky |
Penampilan anda banyak mengajak refleksi, spiritual dan kebijaksanaan. |
Kombinasi antara Time Base Dengan Performance Dalam Pembelajaran
| No |
Time Base |
Performance |
| 1 |
06:00-09:00. Green |
Water style 90%. Bisa juga membuka pembelajaran dengan Earth tapi jangan terlalu lama dan sering. Sekali-kali bisa membuat pembukaan dengan Sky. Namun, belum tepat menggunakan Fire. |
| 2 |
09:00-12:00. Yellow |
Gunakan 2 Style. 70% untuk Earth dan 30% untuk Fire. |
| 3 |
12:00-15:00. Red |
Gunakan 2 Style. 70% untuk Fire dan 30% untuk Earth. |
| 4 |
15:00-18:00. White |
Gunakan 4 Style. Earth, Fire, Water dan Sky. Secara berimbang. |
| 5 |
18:00-24:00. Black |
Gunakan 2 Style. Earth dan Sky. |
| 6 |
24:00-06:00. Grey |
Sebagian besar gunakan Sky. |
Tentunya ini bukanlah rumus mutlak. Tetap perhatikan kondisi dan kebutuhan audiens anda. Kombinasi antara time base dan performance ini sebagai panduan saja. Jika sering berlatih maka anda akan bisa membuat rumusan baru yang lebih baik.
Inti Recollection Smart Teaching
- Magical Opening
Membuka pembelajaran harus menarik karena kesan pertama akan mempengaruhi kesan selanjutnya. Ingat “Hal yang luar biasa apabila anda sampaikan dengan biasa saja maka hal tersebut akan menjadi biasa saja. Namun, hal biasa ketika disampaikan dengan cara yang luar biasa maka akan menjadi hal yang luar biasa”.
Mengapa penting membuat pembukaan yang menarik?
- Mempersiapkan otak bawah sadar untuk menerima pesan. Otak manusia juga seperti anak kecil yang perlu mainan untuk menarik perhatiannya. Jika seorang anak sedang asik dengan mainannya apa yang akan anda lakukan untuk menarik perhatiannya?apakah merebut mainannya itu?tentu saja tidak. Caranya adalah dengan memberikan mainan baru yang lebih baik dan menarik. Jika mereka sudah tertarik maka kita sudah memasuki suatu wilayah di otak yang disebut “critical phase” yaitu wilayah penyaringan informasi. Jika kita sudah menyentuh wilayah ini maka kita ibarat jalan tol/by pass untuk menyampaikan materi/informasi.
- Membuka mental block. Pembukaan yang menarik juga bisa membuka halangan mental dari audiens. Karena audiens sangat beragam bisa saja apa yang anda sampaikan sudah diketahui oleh peserta didik sehingga mereka tidak tertarik lagi untuk mendengarkannya.
- Membentuk persepsi. Sangat penting diketahui bahwa persepsi orang lain terhadap kita akan sangat mempengaruhi cara pandang mereka terhadap kita.
Membuat Magical Opening
- Alpha State. Caranya adalah membuat peserta didik nyaman dan rileks ketika pertama kali bertemu dengan kita. Bisa melalui penampilan, gaya bicara, ekspresi. Bisa juga memutar music rileks, bercerita sesuatu yang menyenangkan. Jangan bercerita tentang hal-hal yang menakutkan, menegangkan dan sejenisnya.
- Positive words. Sampaikan kalimat positif. Kalimat yang positif akan memacu otak untuk bekerja dengan senang, nyaman dan bahagia. Rancanglah kalimat yang segar dan positif. Hindari menggunakan kalimat yang bersifat negative dalam pembukaan anda. Contoh. “wah, di luar panas sekali ya…atau…anak-anak, pagi ini dingin sekali ya..enaknya tarik selimut dan tidur lagi. Tap, kita harus belajar anak-anak”…dan sebagainya. Sering juga kita menggunakan kalimat negative seperti:”anak-anak kita akan belajar tentang bumi sampai jam 12;00 nanti, bapak harapkan tidak ada yang mengantuk ya….”. Kalimat itu bisa diganti dengan:”anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang bumi sampai jam 12 nanti, Bapak harapkan kalian semua selalu semangat dan segar selama pembelajaran ini”. Kurangi menggunakan kata-kata atau kalimat negative seperti; jangan, tidak, dilarang dan sebagainya karena tidak bisa diproses dalam pikiran. Sebagai latihan gunakan cerita tentang monyet.
- Reframing. Membingkai kembali. Reframing adalah membingkai kondisi yang ada dengan kalimat penolakan. Seperti; Selamat siang, anak-anak. Walaupun udara hari ini cukup panas, Bapak yakin kalian semua tetap akan semangat dan antusias mengikuti pembelajaran kali ini’.
- Shocking. Membuat kejutan. Kejutan ini perlu dilakukan terutama jika atmosfir under estimate audiens terhadap anda atau mereka belum tahu kredibilitas anda. Bisa anda lakukan dengan sulap, teka-teki, permainan dan sebagainya.
- Emotional Shyncronizing. Membentuk suatu hubungan emosi yang kuat antara anda dengan audiens. Anda harus mengajar dengan sepenuh hati. Menggunakan getaran jiwa dan hati. Hindari mengajar dengan gaya dan suara yang dibuat-buat. Hal ini bisa dilakukan dengan menciptakan “positive emotion”. Contoh ketika kelas rebut, maka anda bisa memilih emosi anda apakah akan berfikir” ah..kelas brengsek…kumpulan anak-anak nakal dan bandel”…atau anda berfikir” anak-anak mungkin sudah lelah dan letih…mereka perlu hiburan dan istirahat.
Guru juga harus memahami bahwa memori yang mengendap adalah sebuah pengalaman yang pernah anda alami. Sedangkan emosi adalah sebuah sebab dari munculnya memori tersebut. Anda harus bisa menghapus memori yang tak berguna seperti kesedihan, kekesalan kepada seorang siswa dan sebagainya dan anda mendaur ulangnya. Memori yang tidak berguna adalah sampah-sampah emosi. Sampah emosi sangat mempengaruhi getaran yang anda ciptakan. Getaran emosi positif yang anda ciptakan akan mempengaruhi emosi di sekeliling anda.
Pola positive emotion adalah gabungan dari desire/keinginan terdalam kita dengan visualisasi/penggambaran mental dari desire kita tersebut. Keduanya akan menciptakan full emotion. Kebanyakan orang hanya berhenti pada keinginan terdalam saja/desire. Semua orang berbagi cinta, ingin kelas ceria, ingin semua menyambutnya dengan senyum. Pada taraf ini, getaran yang anda hasilkan masih minim. Desire tadi harus dilahirkan dalam visual sehingga lahir full emotion dengan getaran yang lebih maksimal. Ingat, bagaimana kita bisa membuat atau berbagi keceriaan kalau kita sendiri tidak ceria?. Guru perlu mengenali desire nya dan memvisualisasikannya.
- Telling(Menyampaikan Pesan Inti)
Dalam penyampaian sebuah pesan agar menarik, menurut ilmu komunikasi ada 3 hal yang harus diperhatikan yaitu visual, verbal dan vocal. Masing-masing berkontribusi sebesar 50%, 15% dan 35%. Tampak bahwa ternyata apa yang tampak dari pembicara sangat berpengaruh signifikan terhadap sampainya sebuah pesan. Visual disini mengacu pada gerak tubuh. Coba anda bandingkan, ada pembicara yang duduk saja di meja atau berdiri di podium kemudian membacakan slide atau hand outnya. Kemudian ada pembicara yang mampu membaur dengan audiens, gerakan-gerakannya begitu menyatu dengan pesan yang disampaikannya. Kira2, mana yang lebih menarik?tentu saja pembicara terakhir.
Jika kita berbicara tanpa bahasa tubuh, tanpa ekspresi wajah, tanpa gerakan tangan, tanpa memperhatikan penampilan maka itu sama saja dengan membunuh 50% potensi keberhasilan kita sebagai pembicara. Kita sudah kalah sebelum berperang. Demikian juga dengan aspek lain. Ketiganya adalah satu paket yang utuh.
- Kharisma
Kharisma memberikan kontribusi 80% terhadap suksesnya ada sebagai pembicara dan mengajak pendengar anda untuk melakukan sesuatu secara sukarela sesuai kemauan anda. Kharisma lahir dari kesempurnaan kemasan kepribadian seseorang.
Beberapa hal penting:
- Anda mampu mengubah sikap orang terhadap anda dengan terlebih dahulu mengubah sikap anda pada orang lain (Napoleon Hill).
- Anda mampu mengubah orang lain menjadi memperhatikan anda dengan terlebih dahulu mengubah perhatian anda pada orang lain (Napoleon Hill).
- Perlakukanlah orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan oleh mereka.
- Perhatikan orang lain sebagaimana anda ingin diperhatikan oleh mereka.
- Bantulah orang lain sebagaimana anda ingin dibantu oleh mereka.
- Tersenyumlah kepada orang lain sebagaimana anda ingin mereka tersenyum kepada anda.
- Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana anda ingin mereka berbuat baik kepada anda.
- Bersikap tenanglah kepada orang lain sebagaimana anda ingin mereka bersikap tenang kepada anda.
- Tunjukkan semangat anda kepada mereka sebagaimana anda ingin mereka menunjukkan semangatnya kepada anda.
- Berikan keceriaan kepada orang lain sebagaimana anda ingin mereka memberikan keceriaan kepada anda.
- Apapun keinginan anda maka berikanlah hal tersebut terlebih dahulu kepada orang lain yang ada di sekitar anda.
Kisah Penuh Makna:
Sir Edmund Hillary adalah orang pertama yang mampu menginjakkan kakinya di puncak tertinggi di dunia yaitu mt. everest dengan ketinggian 29.028 kaki dpal. Saat itu dia ditemani oleh seorang pemandu yang disebut Sherpa yang bernama Tenzing Norgay. Sebenarnya, sebagai seorang pemandu, tensing bisa saja mencap dirinya sebagai orang pertama yang mampu mencapai puncak tertinggi dunia karena dialah yang memandu Edmund dan dia selalu berada di depan. Namun, perhatikanlah ungkapan Tenzing tentang hal itu:
“Memang betul, seharusnya saya yang menjadi orang pertama menginjakkan kaki di puncak tertinggi itu. Tetapi, pada saat tinggal selangkah lagi, saya mempersilahkan Edmund untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama yang sampai ke puncak Everest. Karena hal itu adalah impian Edmund, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil mengantar dan membantunya menggapai impiannya”.