MTQN tingkat Sumatera Barat ke 34 tahun 2011 sudah memasuki masa “injury time”. Besok, senin tanggal 28 november 2011 MTQ dijadwalkan akan ditutup secara resmi oleh Wakil Gubernur Sumbar Bapak H. Muslim Kasim. Sudah 7 hari pelaksanaan MTQ tentu beragam perkembangan, kesan, peristiwa telah terjadi. Positif dan negatif silih berganti. Satu hal yang perlu diancungi jempol bagi pemerintah kabupaten Dharmasraya beserta rakyatnya adalah keberanian mereka mencalonkan diri sebagai Tuan Rumah MTQ Tingkat Sumatera Barat di kala daerah lain masih berfikir. Dharmasraya hanya memiliki waktu sekitar 7 bulan untuk melakukan persiapan. Lahan seluas 300 Ha di Koto Padang disulap siang malam menjadi arena utama MTQ yang megah. Barangkali ini adalah arena MTQ Sumbar Terluas yang pernah ada. Hal lain yang perlu kita catat adalah kesiapan masyarakat terutama venue kegiatan. Seperti di Masjid Raya sungai dareh. Panitia sangat kompak dan kualitas Soundnya patut diacungi jempol. Kesan-kesan positif lainnya juga terungkap dalam pertemuan pimpinan kafilah, majelis hakim dengan Bupati Dharmasraya Bapak Ir. H. Adi Gunawan di auditorium Kantor Bupati. Seperti prosesi penyambutan, pemondokan kafilah, pelayanan kepada pimpinan kafilah dan sebagainya.
Namun, tiada gading yang tak retak. Pelaksanaan MTQ kali ini perlu evaluasi dan pembenahan di berbagai bidang. Walaupun Dharmasraya termasuk kabupaten termuda hasil pemekaran dari kabupaten sawahlunto sijunjung sekitar 7 tahun yang lalu, hal-hal yang kurang baik perlu menjadi catatan penting demi perbaikan di masa datang. Beberapa hal tersebut adalah;
- Kurangnya “Demam” MTQ di kalangan masyarakat secara umum. Ini terlihat di kalangan masyarakat yang berada di dekat tempat kegiatan. Masyarakat terlihat kurang antusias. Biasanya, pada MTQ Sumbar sebelumnya selama MTQ masyarakat dihimbau untuk memakai pakaian muslim. Namun, hal ini tidak terlihat disini. Bahkan pembelajaran di sekolah dipindahkan ke masjid-masjid tempat kegiatan yang berdekatan tentunya. Seperti cabang Tilawah Remaja di Masjid Raya Sungai Dareh, Ada sebuah SD yang bersebelahan dengan Masjid, namun sekolah tersebut tetap melaksanakan kegiatan rutin mereka. Umbul-umbul, marawa dan baliho juga masih kurang sehingga kesemarakkan MTQ juga terkesan kurang. Sosialisasi melalui media sebelum MTQ juga kurang.
- Keterbatasan Hotel dan penginapan juga menjadi masalah. Penginapan majelis hakim belum ditata dengan baik. sehingga sebagian majelis hakim mendapatkan penginapan dengan kualitas “alakadarnya”. Juga tidak ada kontrol dari panitia ke penginapan2 tersebut sehingga keluhan dan permasalahan di lapangan tidak bisa menjadi bahan evaluasi harian panitia. Kondisi ini diperparah oleh pengaturan konsumsi yang belum optimal. Ada peristiwa menarik yaitu nasi kotak melayang. Menurut beberapa majelis hakim, baru kali ini majelis hakim harus makan nasi kotak dan makan didalam kamar masing-masing. Malah ada yang berseloroh “seperti dalam tahanan saja kita ini”.
- Karena Dharmasraya dilewati oleh jalan lintas maka ketika pembukaan dan beberapa waktu terjadi kemacetan luar biasa. Inipun ditambah dengan antrian truk-truk dan kendaraan yang menumpuk di SPBU. Tak pelak ada majelis hakim yang terlambat ke tempat kegiatan gara-gara terjebak macet. Beberapa kafilah juga mengeluhkan kesulitan mendapatkan BBM dan Kemacetan.
Tulisan ini semoga menjadi catatan bagi kita semua dan menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak agar pelaksanaan MTQ Sumatera Barat ke depan lebih baik. Selamat bagi Pemerintah Kabupaten dan Masyarakat Dharmasraya dan Sampai Jumpa pada MTQ Ke 35 tahun 2013.